Adakah cinta tanpa pertemuan.........
Adakah cinta tanpa sentuhan.............
Adakah cinta tanpa cumbuan......
Dimana hati bergetar hanya dengan mendengar namanya saja
Hati terasa damai ketika mulut ini merapalkan namanya
Mungkin......................
Apakah itu cinta atau Hanya Khayalan semata???
Tapi yang pasti NamaMu adalah mantra bagiku...
Mantra diatas mantra,
Mantra penyembuh segala penyakit
Hanya dengan merapalkan namaMu saja,
Jiwa ini terasa hidup
Jiwa ini terasa diangkat dari Dukha,
Kesengsaraan yang lebih menyakitkan daripada kematian jasad
Apakah itu cinta atau hanya khayalan semata????
Yang pasti rasa ini adalah rasa tanpa syarat,
Rasa yang tidak memerlukan pembuktian apapun
Untuk sekedar membuatku percaya akan adanya rasa ini
Adakah cinta yang demikian tulusnya???
Entahlah...................
Aku tak tahu dan tak mau tahu...
Yang ku tahu ada rasa itu di dalam hatiku
Yang takkan pernah padam untukmu...
Untuk cinta yang tak berbalas..........
Slatri, 10 Agustus 2011
Aziz Hoesla Al-Faqir
welcome to aziz's blog
Minggu, 30 Oktober 2011
Jumat, 05 Maret 2010
Pidato Kebudayaan Ulil Abshar-Abdalla
Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Sebagai langkah awal, tahun ini, Forum Pluralisme Indonesia akan menggelar Orasi Pembaharuan Islam yang kali ini akan disampaikan Ulil Abshar-Abdalla.Kegiatan ini akan dilaksanakan pada: Selasa, 2 Maret 2010, Pukul 19.00 – 21.00 WIB di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta
Tahun 1970an, Islam di Indonesia menghadapi dua fenomena besar. Pertama, represi politik Islam yang dilakukan oleh Orde Baru. Kedua, peningkatan gairah keislaman yang tampak pada penggunaan simbol-simbol Islam dalam kehidupan. Fenomena ini direspon secara luas dan beragam oleh banyak aktivis dan pemikir muda secara bergairah. Gairah pemikiran itu kemudian muncul dalam bentuk gerakan pembaharuan Islam Indonesia.
Di Jakarta, Nurcholish Madjid mencanangkan gerakan pembaharuan Islam melalui pidato berjudul Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat di Taman Ismail Marzuki, 3 Januari 1970. Di Yogyakarta, muncul sejumlah pemikir muda yang tergabung dalam Limited Group. Kelompok yang terdiri dari Ahmad Wahib, Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, dan Kuntowijoyo itu aktif berdiskusi dan mempublikasikan tulisan-tulisan kritis mengenai realitas sosial dan pemikiran ummat Islam. Dari kalangan NU tradisional muncul sang fenomenal Abdurrahman Wahid yang memperkenalkan pemikiran pluralisme di Indonesia.
Realitas masyarakat Islam yang dihadapi para pembaharu Islam awal pada masa itu adalah Islam yang sedang berkembang pesat tetapi pada saat yang sama masih sangat terbelakang dalam hal akses ekonomi dan pendidikan. Di ranah politik, “aspirasi” masyarakat Islam juga tampak marginal menyusul kebijakan Orde Baru yang secara sistematis meminggirkan peran politik Islam.
Kondisi semacam ini menjadikan Islam sebagai agama sangat tidak bergengsi. Bagi Cak Nur dan Gus Dur, peminggiran, dan perasaan terpinggirkan, sangat berbahaya apalagi menimpa kelompok mayoritas. Inferioritas bisa memunculkan eksklusifitas. Pada kondisi yang akut, eksklusifitas bisa muncul dalam bentuk agresif dan anarkis. Terorisme dan radikalisme agama yang marak belakangan ini adalah bentuk agresif dari eksklusifitas dan inferioritas.
Realitas sosio-politik yang dihadapi Cak Nur dan kawan-kawan cukup berbeda dengan realitas kita saat ini. Transisi demokrasi telah membuka peluang ekspresi bagi apa dan siapapun. Struktur kesempatan politik yang terbuka ini tidak hanya menguntungkan gerakan pro-demokrasi, tetapi juga memberi peluang gerak bagi kelompok-kelompok radikal yang selama bertahun-tahun ikut terepresi dalam era otoritarianisme. Tantangan yang dihadapi oleh para pembaharu Islam menjadi lebih kompleks.
Dalam kondisi dan seting sosial baru ini, dibutuhkan formulasi pemikiran Islam baru yang bisa menjawab tantangan baru. Berdasarkan pokok-pokok pikiran di atas Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Sebagai langkah awal, tahun ini, Forum Pluralisme Indonesia akan menggelar Orasi Pembaharuan Islam yang kali ini akan disampaikan Ulil Abshar-Abdalla.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Selasa, 2 Maret 2010
Waktu : Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Tempat : Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta
Forum Pluralisme Indonesia adalah forum yang dibentuk untuk mendukung dan menyebarluaskan gagasan-gagasan pembaharuan agama. Forum ini terdiri dari pelbagai lembaga, di antaranya adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), The Wahid Institute, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Masyarakat Dialog Antar-Agama (MADIA), Moderat Muslim Society (MMS), Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Persekutuan Gereja-Geraja di Indonesia (PGI), Komisi Hak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Gereja Kristen Indonesia (GKI).
Tahun 1970an, Islam di Indonesia menghadapi dua fenomena besar. Pertama, represi politik Islam yang dilakukan oleh Orde Baru. Kedua, peningkatan gairah keislaman yang tampak pada penggunaan simbol-simbol Islam dalam kehidupan. Fenomena ini direspon secara luas dan beragam oleh banyak aktivis dan pemikir muda secara bergairah. Gairah pemikiran itu kemudian muncul dalam bentuk gerakan pembaharuan Islam Indonesia.
Di Jakarta, Nurcholish Madjid mencanangkan gerakan pembaharuan Islam melalui pidato berjudul Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat di Taman Ismail Marzuki, 3 Januari 1970. Di Yogyakarta, muncul sejumlah pemikir muda yang tergabung dalam Limited Group. Kelompok yang terdiri dari Ahmad Wahib, Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, dan Kuntowijoyo itu aktif berdiskusi dan mempublikasikan tulisan-tulisan kritis mengenai realitas sosial dan pemikiran ummat Islam. Dari kalangan NU tradisional muncul sang fenomenal Abdurrahman Wahid yang memperkenalkan pemikiran pluralisme di Indonesia.
Realitas masyarakat Islam yang dihadapi para pembaharu Islam awal pada masa itu adalah Islam yang sedang berkembang pesat tetapi pada saat yang sama masih sangat terbelakang dalam hal akses ekonomi dan pendidikan. Di ranah politik, “aspirasi” masyarakat Islam juga tampak marginal menyusul kebijakan Orde Baru yang secara sistematis meminggirkan peran politik Islam.
Kondisi semacam ini menjadikan Islam sebagai agama sangat tidak bergengsi. Bagi Cak Nur dan Gus Dur, peminggiran, dan perasaan terpinggirkan, sangat berbahaya apalagi menimpa kelompok mayoritas. Inferioritas bisa memunculkan eksklusifitas. Pada kondisi yang akut, eksklusifitas bisa muncul dalam bentuk agresif dan anarkis. Terorisme dan radikalisme agama yang marak belakangan ini adalah bentuk agresif dari eksklusifitas dan inferioritas.
Realitas sosio-politik yang dihadapi Cak Nur dan kawan-kawan cukup berbeda dengan realitas kita saat ini. Transisi demokrasi telah membuka peluang ekspresi bagi apa dan siapapun. Struktur kesempatan politik yang terbuka ini tidak hanya menguntungkan gerakan pro-demokrasi, tetapi juga memberi peluang gerak bagi kelompok-kelompok radikal yang selama bertahun-tahun ikut terepresi dalam era otoritarianisme. Tantangan yang dihadapi oleh para pembaharu Islam menjadi lebih kompleks.
Dalam kondisi dan seting sosial baru ini, dibutuhkan formulasi pemikiran Islam baru yang bisa menjawab tantangan baru. Berdasarkan pokok-pokok pikiran di atas Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Sebagai langkah awal, tahun ini, Forum Pluralisme Indonesia akan menggelar Orasi Pembaharuan Islam yang kali ini akan disampaikan Ulil Abshar-Abdalla.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Selasa, 2 Maret 2010
Waktu : Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Tempat : Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta
Forum Pluralisme Indonesia adalah forum yang dibentuk untuk mendukung dan menyebarluaskan gagasan-gagasan pembaharuan agama. Forum ini terdiri dari pelbagai lembaga, di antaranya adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), The Wahid Institute, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Masyarakat Dialog Antar-Agama (MADIA), Moderat Muslim Society (MMS), Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Persekutuan Gereja-Geraja di Indonesia (PGI), Komisi Hak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Gereja Kristen Indonesia (GKI).
Rabu, 16 Desember 2009
NU Harus Dipimpin Anak Muda
oleh : Saidiman
ULIL Abshar Abdala tentu bukan nama baru dalam dunia pemikiran Islam di Indonesia yang penuh kontroversi. Karena itu menantu KH A Mustofa Bisri yang pernah difatwa mati oleh umat Islam lain ini bukanlah tanda seru. Namun namanya mencuat dan menjadi tanda tanya besar lagi ketika ia mencalonkan diri sebagai sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU).
Ada agenda besar apa yang hendak ia lakukan? Ia ingin mengobrak-abrik lembaga sakral ini atau justru membangun dengan sepenuh hati? Berikut perbincangan dengan Koordinator Jaringan Islam Liberal yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Jakarta) itu, belum lama ini.
Banyak yang bilang Anda mencari sensasi saat mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PB NU. Apa komentar Anda?
Terus terang beberapa saat lalu setelah empat tahun belajar di Amerika, saya tidak punya keinginan menjadi pimpinan NU. Jujur saja setelah mendengar kabar Yuddy Chrisnandi yang masih muda juga berjuang menjadi Ketua Umum Partai Golkar, saya terinspirasi mencoba hal sama di NU. Meskipun demikian, di NU sudah ada teladan yang bisa dicontoh. Dulu Gus Dur pada saat menjadi Ketua Umum PB NU berusia 44 tahun dan KH Wahid Hasyim juga masih sangat muda.
Sejak kecil saya juga hidup, tumbuh, dan berkiprah di lingkungan NU sehingga saya merasa tidak salah jika mencalonkan diri menjadi pimpinan NU.
Yang jelas setelah bertemu dan berembuk dengan teman-teman muda, memang ada kerinduan sebagian besar dari mereka untuk kembali kepada era Gus Dur. Era Gus Dur ini ditandai oleh kepemimpinan ide. Tentu saja Gus Dur tidak bekerja dan berpikir sendiri. Ia didukung oleh para pinisepuh.
Pada waktu NU dipimpin oleh Gus Dur, ia memang menjadi organisasi massa (ormas) yang semula dianggap sebagai kaum sarungan yang tertinggal di pedesaan menjadi ormas yang memiliki power di pentas nasional. Nah harga diri semacam itu sekarang ini dirasakan hilang karena NU terlalu terlibat dalam dinamika politik.
Tentu saja saya tidak antipartai atau politik kepartaian. Boleh saja NU terjun dalam dunia politik. Akan tetapi harus ada keseimbangan dengan wataknya yang sebagai ormas yang mengurus umat, yakni mengurus pendidikan dan kemaslahatan umat.
Keinginan saya menjadi Ketua Umum PB NU juga didorong oleh hasrat saya mengkritik teman-teman yang telah mencitrakan lembaga ini sebagai ormas pedesaan. Ini cara memandang NU yang keliru atau tidak sepenuhnya benar. Anak-anak keluarga NU yang menempuh pendidikan di kota atau keluarga NU yang urbanisasi makin banyak. Sayang, mereka ini tidak pernah diperhitungkan. Karena itu ketika mendesain program-program apa pun yang disasar adalah warga NU yang berada di pedesaan. Warga-warga NU yang berada di perkotaan tidak pernah disapa. Akhirnya, mereka diambil alih, direkrut, atau ”dibajak” oleh kelompok lain. Ini yang sekarang menjadi keluhan. Prinsipnya saya dan kawan-kawan muda rindu NU kembali menjadi civil society organization. Karena itu, NU harus menjadi ormas moderat yang membawa pemikiran segar.
Mengapa harus kembali ke era Gus Dur? Saya sendiri mendefinisikan diri sebagai orang yang lahir karena Gus Dur. Waktu NU kembali ke kittah pada 1984, saya adalah santri di Kajen yang mengikuti peristiwa itu dengan penuh perhatian. Komentar-komentar, ucapan-ucapan, dan apa pun tindakan Gus Dur saya perhatikan. Karena itu figur Gus Dur benar-benar membentuk segala tindak-tanduk saya.
Apa reaksi awal kalangan NU saat Anda mencalonkan diri?
Ada yang menyambut positif. Saya memang belum terjun di kalangan bawah tapi saya telah keliling sowan ke kiai-kiai. Selama dua bulan saya menjumpai tokoh-tokoh dan PB NU di Jawa dan luar Jawa. Saya akan silaturahim, kula nuwun kepada mereka. Saya kira saya tidak perlu mengotot menerangkan keinginan-keinginan saya. Yang penting silaturahim dulu. Nanti pada saatnya saya baru mengutarakan gagasan-gagasan atau apa yang saya pikirkan mengenai NU.
Ada juga yang keras sekali merespons tindakan saya. Namun jumlahnya sangat sedikit. Saya kaget. Saya membayangkan yang mengkritik gagasan saya akan banyak. Selama ini kan saya dianggap sebagai momok bagi pemikiran-pemikiran Islam konvensional.
Apakah keliberalisan Anda tidak menjadi persoalan?
Sudah pasti hal itu menjadi persoalan. Akan tetapi ini akan mudah dijelaskan. Selama ini pemikiran-pemikiran Islam liberal saya telah disalahpahami. Jika dicermati, seluruh pemikiran saya sesungguhnya merupakan kritik saya terhadap Islam radikal. Tradisi pemikiran dan tindakan mereka jauh dari segala hal yang saya kenal di NU. Perdebatan pun terjadi. Mereka memelintir ayat-ayat Allah untuk memberhalakan keradikalan dan menganggap salah segala yang saya pikirkan. Parahnya setelah itu mereka memprovokasi dan melaporkan saya kepada para kiai mana pun betapa saya telah menyimpang dari Islam dan NU. Situasi ini menajam karena saya dan anak-anak muda lain yang liberal kurang sowan dan menjelaskan persoalan-persoalan itu kepada para kiai.
Saya yakin persoalan ini bisa terselesaikan karena saya memang sama sekali tidak mengkritik doktrin aswaja, tradisi atau ritual NU. Kritik saya, sekali lagi, tertuju pada kelompok-kelompok yang memperjuangan negara Islam atau syariat Islam di Indonesia. NU, kita tahu, secara organisatoris, tidak pernah mendukung pemberlakuan syariat Islam yang formalistik. Semangat saya dan NU sama. Pemikiran saya selama ini justru menerjemahkan semangat NU kembali ke kittah. Indonesia, kata para sesepuh NU, bukanlah negara yang harus dipertentangkan dengan Islam. Pancasila, ungkap Gus Dur, tidak harus dipersaingkan dengan Islam. Islam dan Pancasila itu komplementer. Pemikiran-pemikiran para pinisepuh NU semacam itu sangat mendarah daging dalam diri saya. Jadi, saat saya mengkritik ide-ide pendirian negara Islam, sesungguhnya merupakan kelanjutan dari pemikiran-pemikiran NU.
Karena itu tidak ada alasan para kiai mengkritik keliberalisan pemikiran-pemikiran saya. Kemarahan kiai terjadi karena mereka mendapatkan informasi sepihak mengenai diri saya. Saya difitnah menghalalkan minum, percaya pada Syeh Siti Jenar, dan menganjurkan tidak memberikan salam kepada umat Islam. Wah, fokus perhatian saya tidak ke hal-hal semacam itu.
Apakah tradisi NU yang meletakkan kiai sepuh sebagai segala-galanya juga tak menghambat keinginan Anda? Bagaimana jika Anda tidak direstui para kiai?
Tentu saja restu kiai masih sangat perlu. Dulu Gus Dur selain memiliki kekuatan ide, di belakang dia ada kiai-kiai besar yang mendukung. Antara lain ada Kiai Ali Maksum dan Kiai Ahmad Syamsul Arifin. Inilah dua naga dalam NU yang mendukung mereka.
Kini memang tidak ada kiai yang memiliki reputasi semacam itu. Sekarang harus diakui ada kemerosotan kualitas kiai karena selain mereka banyak yang terjun ke politik, kualitas pendidikan di pesantren juga merosot. Waktu pendidikan di pesantren makin pendek. Tidak ada yang sampai setingkat perguruan tinggi. Generasi Kiai Ali Maksum atau Kiai Bisri Mustofa, misalnya, adalah sosok yang mondok hingga level strata tiga (S3). Sekarang segalanya sangat pragmatis.
Bukan berarti saat saya sowan ke para kiai, lantas kami tidak memiliki pandangan yang berbeda. Akan tetapi dengan memberikan penjelasan yang detail mengenai gagasan-gagasan saya, mereka tidak akan mempermasalahkan pencalonan diri saya sebagai Ketua PB NU.
Bagaimana Anda ”mengatasi” atau ”berhadapan” dengan calon lain?
Saya merasa akan bisa berkompetisi dengan mereka. Saya merasa bisa fastabiqul khairat dengan mereka. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Saya akan bertarung all out. Andalannya: saya ingin meremajakan NU dari mulai PB NU. Realitasnya yang bekerja itu anak muda, tetapi mereka tidak dianggap. Kaderisasi di NU nol. Kaderisasinya murni alamiah. Ini harus diubah. Ini berbeda dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kaderisasinya sistematik menggunakan cara-cara metode yang canggih dan modern. Modernisasi organisasi di NU, dengan demikian tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hanya dengan begitu NU bisa ber-fastabiqul khairat dengan ormas-ormas yang lain. Dan yang bisa merasakan sense of crisis semacam ini anak-anak muda. Bukan berarti orang tua tidak diperlukan. Akan tetapi anak-anak mudalah yang bisa bergerak mengatasi persoalan ini.
Gus Mus tertawa saat saya bertanya mengenai pencalonan Anda. Apa makna tawa mertua Anda ini?
Ya…memang mustahil…saya menjadi Ketua Umum PB NU karena selama ini saya lebih banyak di luar negeri. Selain itu saya tidak punya modal, tak punya duit banyak. Saya juga tidak punya jaringan sebagai mana teman-teman yang kini duduk di PB NU. Semua orang akan skeptis pada saya sebagaimana Susilo Bambang Yudhoyono dulu dianggap tak mungkin mengalahkan Megawati.
Apa komentar Gus Mus pada pencalonan Anda?
Beliau senang. Gus Mus mengatakan, ”Memang yang harus memimpin NU anak-anak muda.” Mungkin saja yang dianggap anak muda itu bukan anak muda seperti saya. Mungkin ada anak muda lain yang lebih ideal. Hanya sejauh ini tidak ada anak muda yang berani maju. Jika ada anak muda yang maju, saya tak perlu maju.
Mengapa tak ada?
Memang berat menjadi Ketua Umum PB NU. Jalan untuk menjadi pemimpin NU itu memang panjang. Itu sama dengan Anda ingin menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Anda harus punya modal dan jaringan besar dan anak-anak muda tak punya keduanya. Jadi pencalonan saya ini memang gelap dari segi apa pun. Ini seperti sebuah mimpi. Saya sangat sadar saya tengah bermimpi. Saya seperti menabrak tembok tebal. Jadi memang susah menjadi Ketua PB NU. Saya ingin mencoba sampai sejauh mana saya bisa menembus tembok. Jika Gus Dur bisa memimpin NU pada usia 44 tahun, mengapa anak muda NU sekarang tak bisa?
Tentu Gus Dur tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Namun bukankah segala sesuatu akan menjadi kenyataan yang jika dicoba.
Ada variabel lain yang membuat Anda yakin mencalonkan diri?
Kepemimpinan yang sekarang ini tidak memuaskan karena telah membawa NU ke ceruk politik terlalu jauh. Ketidakpuasan ini bisa menjadi jalan masuk saya untuk mengubah pola kepemimpinan di NU. Suasana reformasi juga membawa tren peremajaan yang lumayan bergelora.
Ini membuat anak muda punya kesempatan memimpin. Yang jelas saya punya modal pendidikan (Islam, Barat, dan Timur) yang akan berguna untuk membawa NU menghadapi tantangan ke depan yang beranjak berperan di ranah global. Ini modal yang tak dimiliki kandidat lain. Ini modal yang harus dikapitalisasi. (35)
Profil:
Ulil Abshar Abdala: Pati, 11 Januari 1967.
Pendidikan: Pondok Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen (Pati), Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang (Rembang), Sarjana Fakultas Syari’ah Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (Jakarta, 1993), Master Perbandingan Agama (Boston, 2007), Kandidat Doktor Near Eastern Languages and Civilations Harvard University (AS).
Pekerjaan: Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Jakarta), Direktur Program Indonesian Conference of Religion and Peace, dan Koordinator Jaringan Islam Liberal, serta Direktur Freedom Institute (Jakarta). (35)
(Triyanto Triwikromo/)
ULIL Abshar Abdala tentu bukan nama baru dalam dunia pemikiran Islam di Indonesia yang penuh kontroversi. Karena itu menantu KH A Mustofa Bisri yang pernah difatwa mati oleh umat Islam lain ini bukanlah tanda seru. Namun namanya mencuat dan menjadi tanda tanya besar lagi ketika ia mencalonkan diri sebagai sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU).
Ada agenda besar apa yang hendak ia lakukan? Ia ingin mengobrak-abrik lembaga sakral ini atau justru membangun dengan sepenuh hati? Berikut perbincangan dengan Koordinator Jaringan Islam Liberal yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Jakarta) itu, belum lama ini.
Banyak yang bilang Anda mencari sensasi saat mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PB NU. Apa komentar Anda?
Terus terang beberapa saat lalu setelah empat tahun belajar di Amerika, saya tidak punya keinginan menjadi pimpinan NU. Jujur saja setelah mendengar kabar Yuddy Chrisnandi yang masih muda juga berjuang menjadi Ketua Umum Partai Golkar, saya terinspirasi mencoba hal sama di NU. Meskipun demikian, di NU sudah ada teladan yang bisa dicontoh. Dulu Gus Dur pada saat menjadi Ketua Umum PB NU berusia 44 tahun dan KH Wahid Hasyim juga masih sangat muda.
Sejak kecil saya juga hidup, tumbuh, dan berkiprah di lingkungan NU sehingga saya merasa tidak salah jika mencalonkan diri menjadi pimpinan NU.
Yang jelas setelah bertemu dan berembuk dengan teman-teman muda, memang ada kerinduan sebagian besar dari mereka untuk kembali kepada era Gus Dur. Era Gus Dur ini ditandai oleh kepemimpinan ide. Tentu saja Gus Dur tidak bekerja dan berpikir sendiri. Ia didukung oleh para pinisepuh.
Pada waktu NU dipimpin oleh Gus Dur, ia memang menjadi organisasi massa (ormas) yang semula dianggap sebagai kaum sarungan yang tertinggal di pedesaan menjadi ormas yang memiliki power di pentas nasional. Nah harga diri semacam itu sekarang ini dirasakan hilang karena NU terlalu terlibat dalam dinamika politik.
Tentu saja saya tidak antipartai atau politik kepartaian. Boleh saja NU terjun dalam dunia politik. Akan tetapi harus ada keseimbangan dengan wataknya yang sebagai ormas yang mengurus umat, yakni mengurus pendidikan dan kemaslahatan umat.
Keinginan saya menjadi Ketua Umum PB NU juga didorong oleh hasrat saya mengkritik teman-teman yang telah mencitrakan lembaga ini sebagai ormas pedesaan. Ini cara memandang NU yang keliru atau tidak sepenuhnya benar. Anak-anak keluarga NU yang menempuh pendidikan di kota atau keluarga NU yang urbanisasi makin banyak. Sayang, mereka ini tidak pernah diperhitungkan. Karena itu ketika mendesain program-program apa pun yang disasar adalah warga NU yang berada di pedesaan. Warga-warga NU yang berada di perkotaan tidak pernah disapa. Akhirnya, mereka diambil alih, direkrut, atau ”dibajak” oleh kelompok lain. Ini yang sekarang menjadi keluhan. Prinsipnya saya dan kawan-kawan muda rindu NU kembali menjadi civil society organization. Karena itu, NU harus menjadi ormas moderat yang membawa pemikiran segar.
Mengapa harus kembali ke era Gus Dur? Saya sendiri mendefinisikan diri sebagai orang yang lahir karena Gus Dur. Waktu NU kembali ke kittah pada 1984, saya adalah santri di Kajen yang mengikuti peristiwa itu dengan penuh perhatian. Komentar-komentar, ucapan-ucapan, dan apa pun tindakan Gus Dur saya perhatikan. Karena itu figur Gus Dur benar-benar membentuk segala tindak-tanduk saya.
Apa reaksi awal kalangan NU saat Anda mencalonkan diri?
Ada yang menyambut positif. Saya memang belum terjun di kalangan bawah tapi saya telah keliling sowan ke kiai-kiai. Selama dua bulan saya menjumpai tokoh-tokoh dan PB NU di Jawa dan luar Jawa. Saya akan silaturahim, kula nuwun kepada mereka. Saya kira saya tidak perlu mengotot menerangkan keinginan-keinginan saya. Yang penting silaturahim dulu. Nanti pada saatnya saya baru mengutarakan gagasan-gagasan atau apa yang saya pikirkan mengenai NU.
Ada juga yang keras sekali merespons tindakan saya. Namun jumlahnya sangat sedikit. Saya kaget. Saya membayangkan yang mengkritik gagasan saya akan banyak. Selama ini kan saya dianggap sebagai momok bagi pemikiran-pemikiran Islam konvensional.
Apakah keliberalisan Anda tidak menjadi persoalan?
Sudah pasti hal itu menjadi persoalan. Akan tetapi ini akan mudah dijelaskan. Selama ini pemikiran-pemikiran Islam liberal saya telah disalahpahami. Jika dicermati, seluruh pemikiran saya sesungguhnya merupakan kritik saya terhadap Islam radikal. Tradisi pemikiran dan tindakan mereka jauh dari segala hal yang saya kenal di NU. Perdebatan pun terjadi. Mereka memelintir ayat-ayat Allah untuk memberhalakan keradikalan dan menganggap salah segala yang saya pikirkan. Parahnya setelah itu mereka memprovokasi dan melaporkan saya kepada para kiai mana pun betapa saya telah menyimpang dari Islam dan NU. Situasi ini menajam karena saya dan anak-anak muda lain yang liberal kurang sowan dan menjelaskan persoalan-persoalan itu kepada para kiai.
Saya yakin persoalan ini bisa terselesaikan karena saya memang sama sekali tidak mengkritik doktrin aswaja, tradisi atau ritual NU. Kritik saya, sekali lagi, tertuju pada kelompok-kelompok yang memperjuangan negara Islam atau syariat Islam di Indonesia. NU, kita tahu, secara organisatoris, tidak pernah mendukung pemberlakuan syariat Islam yang formalistik. Semangat saya dan NU sama. Pemikiran saya selama ini justru menerjemahkan semangat NU kembali ke kittah. Indonesia, kata para sesepuh NU, bukanlah negara yang harus dipertentangkan dengan Islam. Pancasila, ungkap Gus Dur, tidak harus dipersaingkan dengan Islam. Islam dan Pancasila itu komplementer. Pemikiran-pemikiran para pinisepuh NU semacam itu sangat mendarah daging dalam diri saya. Jadi, saat saya mengkritik ide-ide pendirian negara Islam, sesungguhnya merupakan kelanjutan dari pemikiran-pemikiran NU.
Karena itu tidak ada alasan para kiai mengkritik keliberalisan pemikiran-pemikiran saya. Kemarahan kiai terjadi karena mereka mendapatkan informasi sepihak mengenai diri saya. Saya difitnah menghalalkan minum, percaya pada Syeh Siti Jenar, dan menganjurkan tidak memberikan salam kepada umat Islam. Wah, fokus perhatian saya tidak ke hal-hal semacam itu.
Apakah tradisi NU yang meletakkan kiai sepuh sebagai segala-galanya juga tak menghambat keinginan Anda? Bagaimana jika Anda tidak direstui para kiai?
Tentu saja restu kiai masih sangat perlu. Dulu Gus Dur selain memiliki kekuatan ide, di belakang dia ada kiai-kiai besar yang mendukung. Antara lain ada Kiai Ali Maksum dan Kiai Ahmad Syamsul Arifin. Inilah dua naga dalam NU yang mendukung mereka.
Kini memang tidak ada kiai yang memiliki reputasi semacam itu. Sekarang harus diakui ada kemerosotan kualitas kiai karena selain mereka banyak yang terjun ke politik, kualitas pendidikan di pesantren juga merosot. Waktu pendidikan di pesantren makin pendek. Tidak ada yang sampai setingkat perguruan tinggi. Generasi Kiai Ali Maksum atau Kiai Bisri Mustofa, misalnya, adalah sosok yang mondok hingga level strata tiga (S3). Sekarang segalanya sangat pragmatis.
Bukan berarti saat saya sowan ke para kiai, lantas kami tidak memiliki pandangan yang berbeda. Akan tetapi dengan memberikan penjelasan yang detail mengenai gagasan-gagasan saya, mereka tidak akan mempermasalahkan pencalonan diri saya sebagai Ketua PB NU.
Bagaimana Anda ”mengatasi” atau ”berhadapan” dengan calon lain?
Saya merasa akan bisa berkompetisi dengan mereka. Saya merasa bisa fastabiqul khairat dengan mereka. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Saya akan bertarung all out. Andalannya: saya ingin meremajakan NU dari mulai PB NU. Realitasnya yang bekerja itu anak muda, tetapi mereka tidak dianggap. Kaderisasi di NU nol. Kaderisasinya murni alamiah. Ini harus diubah. Ini berbeda dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kaderisasinya sistematik menggunakan cara-cara metode yang canggih dan modern. Modernisasi organisasi di NU, dengan demikian tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hanya dengan begitu NU bisa ber-fastabiqul khairat dengan ormas-ormas yang lain. Dan yang bisa merasakan sense of crisis semacam ini anak-anak muda. Bukan berarti orang tua tidak diperlukan. Akan tetapi anak-anak mudalah yang bisa bergerak mengatasi persoalan ini.
Gus Mus tertawa saat saya bertanya mengenai pencalonan Anda. Apa makna tawa mertua Anda ini?
Ya…memang mustahil…saya menjadi Ketua Umum PB NU karena selama ini saya lebih banyak di luar negeri. Selain itu saya tidak punya modal, tak punya duit banyak. Saya juga tidak punya jaringan sebagai mana teman-teman yang kini duduk di PB NU. Semua orang akan skeptis pada saya sebagaimana Susilo Bambang Yudhoyono dulu dianggap tak mungkin mengalahkan Megawati.
Apa komentar Gus Mus pada pencalonan Anda?
Beliau senang. Gus Mus mengatakan, ”Memang yang harus memimpin NU anak-anak muda.” Mungkin saja yang dianggap anak muda itu bukan anak muda seperti saya. Mungkin ada anak muda lain yang lebih ideal. Hanya sejauh ini tidak ada anak muda yang berani maju. Jika ada anak muda yang maju, saya tak perlu maju.
Mengapa tak ada?
Memang berat menjadi Ketua Umum PB NU. Jalan untuk menjadi pemimpin NU itu memang panjang. Itu sama dengan Anda ingin menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Anda harus punya modal dan jaringan besar dan anak-anak muda tak punya keduanya. Jadi pencalonan saya ini memang gelap dari segi apa pun. Ini seperti sebuah mimpi. Saya sangat sadar saya tengah bermimpi. Saya seperti menabrak tembok tebal. Jadi memang susah menjadi Ketua PB NU. Saya ingin mencoba sampai sejauh mana saya bisa menembus tembok. Jika Gus Dur bisa memimpin NU pada usia 44 tahun, mengapa anak muda NU sekarang tak bisa?
Tentu Gus Dur tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Namun bukankah segala sesuatu akan menjadi kenyataan yang jika dicoba.
Ada variabel lain yang membuat Anda yakin mencalonkan diri?
Kepemimpinan yang sekarang ini tidak memuaskan karena telah membawa NU ke ceruk politik terlalu jauh. Ketidakpuasan ini bisa menjadi jalan masuk saya untuk mengubah pola kepemimpinan di NU. Suasana reformasi juga membawa tren peremajaan yang lumayan bergelora.
Ini membuat anak muda punya kesempatan memimpin. Yang jelas saya punya modal pendidikan (Islam, Barat, dan Timur) yang akan berguna untuk membawa NU menghadapi tantangan ke depan yang beranjak berperan di ranah global. Ini modal yang tak dimiliki kandidat lain. Ini modal yang harus dikapitalisasi. (35)
Profil:
Ulil Abshar Abdala: Pati, 11 Januari 1967.
Pendidikan: Pondok Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen (Pati), Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang (Rembang), Sarjana Fakultas Syari’ah Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (Jakarta, 1993), Master Perbandingan Agama (Boston, 2007), Kandidat Doktor Near Eastern Languages and Civilations Harvard University (AS).
Pekerjaan: Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Jakarta), Direktur Program Indonesian Conference of Religion and Peace, dan Koordinator Jaringan Islam Liberal, serta Direktur Freedom Institute (Jakarta). (35)
(Triyanto Triwikromo/)
Jumat, 31 Juli 2009
KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK SISWA KELAS VIII MTs. NURUL ISLAM DESA SLATRI KEC. LARANGAN KAB.
KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK SISWA KELAS VIII MTs. NURUL ISLAM DESA SLATRI KEC. LARANGAN KAB. BREBES
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran seorang siswa akan berhasil sangat ditentukan oleh belajar. Dan dalam belajarpun motivasi yang kuat sangat diperlukan. Jika tidak ada motivasi untuk belajar maka akan sulit untuk mencapai prestasi yang baik. “ motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga makin besar motivasinya makin besar kesuksesan belajarnya”. (Abu Ahmadi, 2004:3)
Motivasi belajar yang ada pada siswa merupakan bakal yang sangat pokok untuk keberhasilan belajar. Sebab belajar yang didasarei oleh keinginan atau dorongan untuk belajar itu akan membangkitkan gairah dan semangat dalam belajar. Kehadiran motivasi belajar ini akan memberikan andil yang cukup penting dan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapaiutujuan belajar secara optimal. Pencapaian tujuan belajar ini dapat dilihat dari pemahaman siswa akan materi bahan ajar yang disampaikan. Pemahaman akan bahan ajar dpat disimpulkan dari hasil-hasil kuis, proses belajar mengajar sehari – hari dan tes semester. Terutama hasil dari tes semester inilah yang digunakan sebagai ukuran yang terkuat atas prestasi siswa terhadap bahan ajar.
Motivasi belajar dikatakan memberikan andil yang cukup penting itu, dapat dipandang sebagai cara-cara berfungsinya pikiran siswa dalam hubungan dengan pemahaman bahan ajar, sehingga penguasaan terhadap bahan yang disajikan lebih mudah dan efektif. Dengan demikian proses belajar mengajar itu akan berhasil baik, kalau didukung oleh faktor motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa.
Sebaliknya, tanpa adanya faktor motivasi belajar dalam diri siswa akan memperlambat proses belajar bahkan dapat pula menembah kesulitan belajar. Sebab lemahnya motivasi belajar bisa berakibat tidak bergairah dan kurang minat siswa dalam belajar, karena itu dalam otak pelajar pun tidak pernah terjadi proses berpikir sehingga timbul kesulitan belajar.
Di era sekarang, dimana batas minimal nilai Ujian Akhir Nasional meningkat tiap tahunnya, yang secara otomatis akan memberikan beban yang lebih berat kepada para siswa dan para pengajar. Terutama para siswa dituntut untuk lebih bisa menguasai dan memahami semua bahan ajar yang disampaikan, yang dalam jangka pendek diharapkan bisa memenuhi target batas minimal nilai Ujian Akhir Nasional. Dan tujuan-tujuan ini tidak akan tercapai jika di dalam diri siswa tidak ada minat belajar yang besar.
Minat atau motivasi ini tidak semata-mata tumbuh dalam diri siswa secara alami, tetapi juga dapat didorong oleh faktor – faktor dari pribadi siswa tersebut. Faktor – faktor dari luar ini bisa bisa berupa; dorongan orang tua, guru dan lingkungan. Dikarenakan dalam belajar, siswa lebih banyak berinteraksi dengan guru, maka peranan guru untuk menumbuhkan motivasi dan meningkatkan prestasi siswa sangat diperlukan.
Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa, adalah dngan cara guru dapat mengarahkan orientasi berpikir siswa kepada hal – hal yang rasional dan obyektif, menyusun teknik, metode, dan kurikulum yang bervariatifdan menarik bagi siswa. Penerapan teknik dan metode yang bervariatif ini dapat dilakukan melalui pengaitan materi – materi pelajaran dengan kehidupan sehari – hari siswa. Sehingga siswa akan tertarik dan tidak bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
Meskipun telah banyak dilakukan penelitian – penelitian tentang motivasi, tetapi seperti yang disebutkan oleh Carole Ames dan Jennifer Archer (1988:1) bahwa, “Penelitian tentang motivasi lebih di fokuskan pada mengidentifikasi perbedaan jenis – jenis tujuan atau orientasi siswa, proses – proses motivasi yang berhubungan dengan perbedaan – perbedaan tujuan ini dan kondisi yang vmempengaruhinya”. Sedangkan, sepanjang pengetahuan penulis, penelitian tentang pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar siswa pada pelajaran Akidah Akhlak, belum pernah dilakukan. Pemilihan Akidah Akhlak sebagai fokus penelitian dikarenakan akidah akhlak adalah salah satu pelajaran wajib di sekolah – sekolah di bawah naungan departemen agama, terutama sekolah yang berbasis islam.
Dari uraian diatas maka ditemukan indikasi akan adanya hubungan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi siswa terhadap bahan ajar dalam hal ini mata pelajaran Akidah Akhlak. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian yaqng berjudul “Korelasi Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Siswa Kelas IX di MTs Nurul Islam Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes”. Dengan harapan akan memberikan pembaca, terutama para pengajar, dorongan untuk lebih memotivasi dan menumbuhkan motivasi dalam diri siswa, untuk lebih aktif dan kreatif dalam menanggapi pelajaran dan dapat meningkatkan minat dan prestasi, khususnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak.
B. Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Identifikasi Masalah
a. Wilayah penelitian dalam skripsi ini adalah Psikologi pendidikan
b. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan empirik atau studi lapangan dengan lokasi penelitian MTs Nurul Islam Slatri Larangan Brebes.
c. Jenis Masalah
Jenis masalah dalam penelitian ini adalah korelasi sejajar, yaitu penulis berusaha untuk mencari korelasi antara dua fenomena dengan menyajikan data – data yang valid untuk menunjukan ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran yang sama.
2. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan dan memudahkan penulis dalam melakukan penelitian maka penulis akan membatasi obyek penlitian pada siswa – siswa kelas 2 saja, hal ini dikarenakan menurut pandangan penulis, siswa – siswa kelas 2 telah cukup memiliki pengetahuan tentang pelajaran Akidah Akhlak. Disamping pemilihan terhadap obyek penelitian, yang tidak kalah penting ada lah materi penelitian, karena di dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui tentang motivasi, maka yang dimaksud dalam motivasi di dalam penelitian ini adalah motivasi dalam mempalajari pelajaran Akidah Akhlak.
Untuk menghindari adanya kesalahpahamandalam pembahasan ini, maka penulis kemukakan batasan – batasan istilah sebagai berikut :
a. Korelasi : hubungan timbal balik atau sebab akibat (KBBI 2007:595)
b. Motivasi : suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Arianto Sam 2008:1)
c. Belajar: berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. (KBBI 2007:15)
d. Prestasi Belajar: penguasaan pengetahuan atau ketramnpilan yang dihubungkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). (Depdikbud:895)
Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk menggambarkan hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Besar – kecilnya hubungan ini ditunjukan dengan angka – angka yang diperoleh melalui perhitungan dengan rumus korelasi produk momen.
3. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana motivasi belajar terhadap pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
b. Bagaimana Prestasi pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
c. Bagaimana hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian mengenai korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar minat atau motivasi siswa dalam belajar pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
2. Untuk mengetahui prestasi belajar mata pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
3. Untuk Mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mata pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa Kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes.
D. Kerangka Pemikiran
Seorang siswa itu akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Ini adalah prinsip dan hukum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Keingianan atau dorongan belajar inilah yang disebut dengan motivasi. (Sardiman, 1994 : 39)
“Motivasi bisa tumbuh dari siswa itu sendiri (motivasi intrinsik) ataupun dari luar seperti, guru, orang tua, lingkungan. Pada umumnya motivasi intrinsik lebih kuat atau lebih baik daripada motivasi ekstrinsik”. (Purwanto, 2004 : 820) Karena itulah motivasi yang tumbuh dalam diri siswa akan sangat mempengaruhi tingkat penguasaan materi dan presatasi siswa terhadap bahan ajar, dalam hal ini pelajaran Akidah Akhlak.
Menurut Arianto Sam (2008:3) dilihat dari sumber – sumbernya, motivasi belajar siswa dapat di bagi menjadi : 1). Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang bersumber pada faktor – faktor dari dalam, tersirat baik dari dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa yang didorong oleh keinginan untuk mengetahui tanpa ada paksaan atau dorongan dari orang lain, misalnya keinginan untuk mendapat ketrampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap untuk berhasil, menikmati kehidupan, secara sadar memberikan sumbangan kepada kelompok, dan sebagainya.
2) Motivasi Ekstrinsik, yaitu motivasi yang bersumber akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain, sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Pelajar dimotivasi dengan angka, ijazah, tingkatan, hadiah, medali, pertentangan, persaingan.
Pentingnya peranan motivasi dan proses pembelajaran perlu dipahami oeh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun dari luar siswa untuk mencapai tujuan tertentu gna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan prestasi belajar siswa.
Peranan motivasi dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakan mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktifuntuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan uasaha belajar siswa.
Untuk lebih jelasnya, fungsi motivasi alam pembelajaran dapat dikategorikan sebagai berikut :a) Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan, misalnya, belajar. b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. c) Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Motivasi belajar sangat berpengaruh pada prestasi siswa, hal ini dapat disimpulkan karena siswa yang memiliki motivasi dalam belajar suatu pelajaran, contohnya Akidah Akhlak, akan memperoleh prestasi yang tinggi dan juga dapat memperbaiki sikapterhadap tugas mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan kata lain motivasi dapat membangkitkan rasa puas dan menaikan prestasi sehingga prestasinya melebihi siswa yang kurang memiliki motivasi dalam belajar.
Menurut Jeremy Harmer, motivasi bisa saja terkikis dan membutuhkan syarat – syarat tertentu sebelum motivasi tersebut bisa menjadi efekitif. Syarat – syarat ini berupa:
a) Sikap mengajar yang sesuai dan baiknya hubungan antara guru dan siswa. b) Suasana kelas yang mendukung dan menyenangkan. c) Kelopmpok belajar yang kohesif, yangf ditandai dengan norma – norma kelompok yang sesuai. Bahkan menurut Dornyei, “Keahlian pengajar dalam memotivasi pelajar adalah penyebab utama dalam kegiatan pengajaran yang efektif”. Dengan katra lain, keahlian guru dalam memotivasi siswa adalah lebih penting daripada perlengkapan proses pembelajara yang dimiliki oleh guru, seperti, Metode pengajaran, media pengajaran, bahkan kurikulum.
Prestasi belajar adalah hasil final dari aktifitas belajar mengajaryang kemudian diukur dengan norma tertentu sebagai standar untuk melihat sejauh mana penguasaan atau pemahaman siswa akan bahan ajar.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu motivasi belajar pada mata pelajaran Akidah Akhlak, sebagai variabel independen (bebas), dan prestasi siswa pada mata pelajaran yang sama, sebagai variabel dependen (variabel terikat).
Variabel bebas adalah masalah yang menjadi fokus penelitian yang keberadaannya secara bebas dan kualitas serta ferkuensinya tidak tergantung pada variabel yang lain. Sedangkan variabel terikat kualitas dasn frekuensinya banyak dipengaruhi oleh variabel bebas. Dalam kasus penelitian ini, bahw motivasi belajar pada pelajaran Akidah Akhlak akan mempengaruhi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran yang sama. Berdasarkan atas dua variabel ini, maka dapat dirumuskan dalam bentuk prosisi, artinya apabila motivasi belajar siswa pada pelajaran Akidah Akhlak adalah X, maka prestasi siswa pada pelajaran Akidah Akhlak dapat dirumuskan sebagai Y. Dengan menggunakan prosisi ini akan lebih mudah untuk menentukan perhitungan dan analia penelitian.
Kerangka pemikiran dapat diterangkan dalam skema:
E. Langkah – langkah Penelitian
1. Sumber Data
a. Data Teoritik
Data teoritik merupakan data yang diperoleh dari sejumlah buku bacaan yang memiliki relevansi dengan permasalahan yang diteliti
b. Data Empirik
Data yang diambil dari lokasi penelitian unsur – unsur personil sekolah, yaitu Kepala Madrasah, Guru, Tata Usaha dan Siswa.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi penelitian ini adalah siswa – siswi kelas 2 MTs Nurul Islam Slatri yang seluruhnya berjumlah 107 siswa. Terdiri dari 35 Siswa kelas 8 A dan 35 siswa kelas 8 B dan 37 siswa kelas 8 C.
b. Sampel
untuk mengurangi nilai kesalahan dalam pengambilan sample (sample error) maka penulis mengambil sampel sebanyak 50% dari jumlah populasi yang ada, yaitu 53 siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gary Klass yang menyebutkan bahwa semakin tinggi atau banyak sample yang diambil maka semakin kecil pula kemungkinan kesalahan dalam pengambilan sample (sample error).
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :
a. Metode Angket
Yaitu penulis melakukan komunikasi secara tidak langsung, berupa pertanyaan – pertanyaan tertulis kepada responden, teknik ini diharapkan memperolehdata untuk bahan analisis dalam menjawab perumusan permasalahan yang telah ditentukan.
b. Metode Dokumentasi
Yaitu pengambilan data tertulis baik catatan, data statistik dan grafik yang berkaitan dengan obyek penelitian, dalam hal ini nilai raport siswa kelas 2 pada mata pelajaran Akidah Akhlak.
c. Study Kepustakaan
Metode ini sering digunakan penulis untuk memperoleh data yang sifatnya teoritis dari buku, majalah, surat kabar, kamus dan media tulis lainnya.
4. Teknik Analisis Data
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, penulis melakukan analisis data. Metode analisa yang digunakan penulis adalah dengan analisa statistikyang merupakan cara untuk memperoleh data dxan kesimpulan yang teliti dan mengambil kesimpulan dengan berbagai rumus kesimpilan yang ada.
Untuk menganalisa data ini ada beberapa tahap penganalisaan, yaitu dalam analisa awal ini penulis mengelompokkan data – data berupa jawaban angket yang ada ke dalam tabel distribusi.
Sebagaimana bentuk pertanyaan yang penulis tuangkan dalam daftar angket jawaban terdisri atas empat alternatif, yaitu a, b, c dan d :
1. untuk jawaban a, dengan jawaban ya atau selalu
2. untuk jawaban b, dengan jawaban sering
3. untuk jawaban c, dengan jawaban kadang – kadang
4. untuk jawaban d, dengan jawaban tidak pernah
Dikarenakan sifat jawaban di atas masih berupa data kualitatif, maka data – data yang bersifat kualitatif tadi harus diubah menjadi data yang bersifat kuantitatif atau data yang berbentuk angka. Dalam menganalisis data yang berasal dari angket bergradasi atau bertingkat 1 sampai dengan 4 memiliki makna setiap alternatif sebagai berikut :
1. selalu / sangat setuju, dan lain – lain menunjukan gradasi paling tinggi diberi nilai 4
2. banyak, sering, setuju dan lain – lain menunjukan peringkat yang lebih rendah dibanding kata “sangat”, oleh karena itu diberi nilai 3
3. sedikit, jarang, kadang – kadang, dan lain – lain, karena di bawah kata setuju dan sebagainya, maka diberi nilai 2
4. sangat sedikit atau sangat jarang, yang berada di gradasi paling bawah diberi nilai 1. (Suharsimi Arikunto : 215)
Dengan berpedoman pada ketentuan di atas, maka untuk jawaban ya / selalu, sering, kadang – kadang dan tidaki pernah diberi nilai angka 4, 3, 2 dan 1, jadi untuk alternatif jawaban :
a. disertakan dengan angka 4
b. disertakan dengan angka 3
c. disertakan dengan angka 2; dan
d. disertakan dengan angka 1
Untuk memperoleh jawaban dari penelitian maka penulis kemukakan analisis data sekaligus untuk mencapai tujuanpenelitian yang diinginkan. Analisa yang dimaksud adalah suatu bentuk analisa dengan memasukan nilai hasil kerja koefisien antara variabel Motivasi belajar pelajaran Akidah Akhlak (X) dengan Prestasi siswa pad pelajaran yang sama (Y) ke dalam rumus korelasi product moment untuk mendapat nilai koefisien korelasi (r) dengan tujuan pembuktian dalam penelitian untuk mendapatkan kesimpulan.
Adapun rumus yang penulis pergunakan adalah rumus korelasi product moment, yaitu,:
Keterangan : = koefisien korelasi antara variabel x dan y
N = jumlah obyek
x = nilai dari motivasi belajar siswa
y = nilai prestasi siswa berupa nilai raport
= jumlah produk x dan y
Apabila nilai “r” terdapat diantara +1 dan -1, maka nilai “r” yang diperoleh dari hasil perhitungan, dikonsultasikan pada tabel nilai “r” sebagai berikut :
Nilai r Interpretasi
0 Tidak ada hubungan
0, 01 – 0, 20 Hubungan sangat rendah
0, 21 – 0, 40 Hubungan rendah
0, 41 – 0, 60 Hubungan agak rendah
0, 61 – 0, 80 Hubungan cukup
0, 81 – 0, 99 Hubungan tinggi
1 Hubungan sangat tinggi
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran seorang siswa akan berhasil sangat ditentukan oleh belajar. Dan dalam belajarpun motivasi yang kuat sangat diperlukan. Jika tidak ada motivasi untuk belajar maka akan sulit untuk mencapai prestasi yang baik. “ motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga makin besar motivasinya makin besar kesuksesan belajarnya”. (Abu Ahmadi, 2004:3)
Motivasi belajar yang ada pada siswa merupakan bakal yang sangat pokok untuk keberhasilan belajar. Sebab belajar yang didasarei oleh keinginan atau dorongan untuk belajar itu akan membangkitkan gairah dan semangat dalam belajar. Kehadiran motivasi belajar ini akan memberikan andil yang cukup penting dan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapaiutujuan belajar secara optimal. Pencapaian tujuan belajar ini dapat dilihat dari pemahaman siswa akan materi bahan ajar yang disampaikan. Pemahaman akan bahan ajar dpat disimpulkan dari hasil-hasil kuis, proses belajar mengajar sehari – hari dan tes semester. Terutama hasil dari tes semester inilah yang digunakan sebagai ukuran yang terkuat atas prestasi siswa terhadap bahan ajar.
Motivasi belajar dikatakan memberikan andil yang cukup penting itu, dapat dipandang sebagai cara-cara berfungsinya pikiran siswa dalam hubungan dengan pemahaman bahan ajar, sehingga penguasaan terhadap bahan yang disajikan lebih mudah dan efektif. Dengan demikian proses belajar mengajar itu akan berhasil baik, kalau didukung oleh faktor motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa.
Sebaliknya, tanpa adanya faktor motivasi belajar dalam diri siswa akan memperlambat proses belajar bahkan dapat pula menembah kesulitan belajar. Sebab lemahnya motivasi belajar bisa berakibat tidak bergairah dan kurang minat siswa dalam belajar, karena itu dalam otak pelajar pun tidak pernah terjadi proses berpikir sehingga timbul kesulitan belajar.
Di era sekarang, dimana batas minimal nilai Ujian Akhir Nasional meningkat tiap tahunnya, yang secara otomatis akan memberikan beban yang lebih berat kepada para siswa dan para pengajar. Terutama para siswa dituntut untuk lebih bisa menguasai dan memahami semua bahan ajar yang disampaikan, yang dalam jangka pendek diharapkan bisa memenuhi target batas minimal nilai Ujian Akhir Nasional. Dan tujuan-tujuan ini tidak akan tercapai jika di dalam diri siswa tidak ada minat belajar yang besar.
Minat atau motivasi ini tidak semata-mata tumbuh dalam diri siswa secara alami, tetapi juga dapat didorong oleh faktor – faktor dari pribadi siswa tersebut. Faktor – faktor dari luar ini bisa bisa berupa; dorongan orang tua, guru dan lingkungan. Dikarenakan dalam belajar, siswa lebih banyak berinteraksi dengan guru, maka peranan guru untuk menumbuhkan motivasi dan meningkatkan prestasi siswa sangat diperlukan.
Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa, adalah dngan cara guru dapat mengarahkan orientasi berpikir siswa kepada hal – hal yang rasional dan obyektif, menyusun teknik, metode, dan kurikulum yang bervariatifdan menarik bagi siswa. Penerapan teknik dan metode yang bervariatif ini dapat dilakukan melalui pengaitan materi – materi pelajaran dengan kehidupan sehari – hari siswa. Sehingga siswa akan tertarik dan tidak bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
Meskipun telah banyak dilakukan penelitian – penelitian tentang motivasi, tetapi seperti yang disebutkan oleh Carole Ames dan Jennifer Archer (1988:1) bahwa, “Penelitian tentang motivasi lebih di fokuskan pada mengidentifikasi perbedaan jenis – jenis tujuan atau orientasi siswa, proses – proses motivasi yang berhubungan dengan perbedaan – perbedaan tujuan ini dan kondisi yang vmempengaruhinya”. Sedangkan, sepanjang pengetahuan penulis, penelitian tentang pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar siswa pada pelajaran Akidah Akhlak, belum pernah dilakukan. Pemilihan Akidah Akhlak sebagai fokus penelitian dikarenakan akidah akhlak adalah salah satu pelajaran wajib di sekolah – sekolah di bawah naungan departemen agama, terutama sekolah yang berbasis islam.
Dari uraian diatas maka ditemukan indikasi akan adanya hubungan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi siswa terhadap bahan ajar dalam hal ini mata pelajaran Akidah Akhlak. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian yaqng berjudul “Korelasi Antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Siswa Kelas IX di MTs Nurul Islam Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes”. Dengan harapan akan memberikan pembaca, terutama para pengajar, dorongan untuk lebih memotivasi dan menumbuhkan motivasi dalam diri siswa, untuk lebih aktif dan kreatif dalam menanggapi pelajaran dan dapat meningkatkan minat dan prestasi, khususnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak.
B. Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Identifikasi Masalah
a. Wilayah penelitian dalam skripsi ini adalah Psikologi pendidikan
b. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan empirik atau studi lapangan dengan lokasi penelitian MTs Nurul Islam Slatri Larangan Brebes.
c. Jenis Masalah
Jenis masalah dalam penelitian ini adalah korelasi sejajar, yaitu penulis berusaha untuk mencari korelasi antara dua fenomena dengan menyajikan data – data yang valid untuk menunjukan ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran yang sama.
2. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya permasalahan dan memudahkan penulis dalam melakukan penelitian maka penulis akan membatasi obyek penlitian pada siswa – siswa kelas 2 saja, hal ini dikarenakan menurut pandangan penulis, siswa – siswa kelas 2 telah cukup memiliki pengetahuan tentang pelajaran Akidah Akhlak. Disamping pemilihan terhadap obyek penelitian, yang tidak kalah penting ada lah materi penelitian, karena di dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui tentang motivasi, maka yang dimaksud dalam motivasi di dalam penelitian ini adalah motivasi dalam mempalajari pelajaran Akidah Akhlak.
Untuk menghindari adanya kesalahpahamandalam pembahasan ini, maka penulis kemukakan batasan – batasan istilah sebagai berikut :
a. Korelasi : hubungan timbal balik atau sebab akibat (KBBI 2007:595)
b. Motivasi : suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Arianto Sam 2008:1)
c. Belajar: berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. (KBBI 2007:15)
d. Prestasi Belajar: penguasaan pengetahuan atau ketramnpilan yang dihubungkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). (Depdikbud:895)
Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk menggambarkan hubungan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Besar – kecilnya hubungan ini ditunjukan dengan angka – angka yang diperoleh melalui perhitungan dengan rumus korelasi produk momen.
3. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana motivasi belajar terhadap pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
b. Bagaimana Prestasi pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
c. Bagaimana hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian mengenai korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar minat atau motivasi siswa dalam belajar pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
2. Untuk mengetahui prestasi belajar mata pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes
3. Untuk Mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mata pelajaran Akidah Akhlak Pada siswa Kelas 2 MTs Nurul Islam Desa Slatri Kec. Larangan Kab. Brebes.
D. Kerangka Pemikiran
Seorang siswa itu akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Ini adalah prinsip dan hukum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran. Keingianan atau dorongan belajar inilah yang disebut dengan motivasi. (Sardiman, 1994 : 39)
“Motivasi bisa tumbuh dari siswa itu sendiri (motivasi intrinsik) ataupun dari luar seperti, guru, orang tua, lingkungan. Pada umumnya motivasi intrinsik lebih kuat atau lebih baik daripada motivasi ekstrinsik”. (Purwanto, 2004 : 820) Karena itulah motivasi yang tumbuh dalam diri siswa akan sangat mempengaruhi tingkat penguasaan materi dan presatasi siswa terhadap bahan ajar, dalam hal ini pelajaran Akidah Akhlak.
Menurut Arianto Sam (2008:3) dilihat dari sumber – sumbernya, motivasi belajar siswa dapat di bagi menjadi : 1). Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang bersumber pada faktor – faktor dari dalam, tersirat baik dari dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa yang didorong oleh keinginan untuk mengetahui tanpa ada paksaan atau dorongan dari orang lain, misalnya keinginan untuk mendapat ketrampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, mengembangkan sikap untuk berhasil, menikmati kehidupan, secara sadar memberikan sumbangan kepada kelompok, dan sebagainya.
2) Motivasi Ekstrinsik, yaitu motivasi yang bersumber akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain, sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Pelajar dimotivasi dengan angka, ijazah, tingkatan, hadiah, medali, pertentangan, persaingan.
Pentingnya peranan motivasi dan proses pembelajaran perlu dipahami oeh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun dari luar siswa untuk mencapai tujuan tertentu gna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan prestasi belajar siswa.
Peranan motivasi dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakan mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktifuntuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan uasaha belajar siswa.
Untuk lebih jelasnya, fungsi motivasi alam pembelajaran dapat dikategorikan sebagai berikut :a) Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan, misalnya, belajar. b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. c) Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Motivasi belajar sangat berpengaruh pada prestasi siswa, hal ini dapat disimpulkan karena siswa yang memiliki motivasi dalam belajar suatu pelajaran, contohnya Akidah Akhlak, akan memperoleh prestasi yang tinggi dan juga dapat memperbaiki sikapterhadap tugas mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan kata lain motivasi dapat membangkitkan rasa puas dan menaikan prestasi sehingga prestasinya melebihi siswa yang kurang memiliki motivasi dalam belajar.
Menurut Jeremy Harmer, motivasi bisa saja terkikis dan membutuhkan syarat – syarat tertentu sebelum motivasi tersebut bisa menjadi efekitif. Syarat – syarat ini berupa:
a) Sikap mengajar yang sesuai dan baiknya hubungan antara guru dan siswa. b) Suasana kelas yang mendukung dan menyenangkan. c) Kelopmpok belajar yang kohesif, yangf ditandai dengan norma – norma kelompok yang sesuai. Bahkan menurut Dornyei, “Keahlian pengajar dalam memotivasi pelajar adalah penyebab utama dalam kegiatan pengajaran yang efektif”. Dengan katra lain, keahlian guru dalam memotivasi siswa adalah lebih penting daripada perlengkapan proses pembelajara yang dimiliki oleh guru, seperti, Metode pengajaran, media pengajaran, bahkan kurikulum.
Prestasi belajar adalah hasil final dari aktifitas belajar mengajaryang kemudian diukur dengan norma tertentu sebagai standar untuk melihat sejauh mana penguasaan atau pemahaman siswa akan bahan ajar.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu motivasi belajar pada mata pelajaran Akidah Akhlak, sebagai variabel independen (bebas), dan prestasi siswa pada mata pelajaran yang sama, sebagai variabel dependen (variabel terikat).
Variabel bebas adalah masalah yang menjadi fokus penelitian yang keberadaannya secara bebas dan kualitas serta ferkuensinya tidak tergantung pada variabel yang lain. Sedangkan variabel terikat kualitas dasn frekuensinya banyak dipengaruhi oleh variabel bebas. Dalam kasus penelitian ini, bahw motivasi belajar pada pelajaran Akidah Akhlak akan mempengaruhi peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran yang sama. Berdasarkan atas dua variabel ini, maka dapat dirumuskan dalam bentuk prosisi, artinya apabila motivasi belajar siswa pada pelajaran Akidah Akhlak adalah X, maka prestasi siswa pada pelajaran Akidah Akhlak dapat dirumuskan sebagai Y. Dengan menggunakan prosisi ini akan lebih mudah untuk menentukan perhitungan dan analia penelitian.
Kerangka pemikiran dapat diterangkan dalam skema:
E. Langkah – langkah Penelitian
1. Sumber Data
a. Data Teoritik
Data teoritik merupakan data yang diperoleh dari sejumlah buku bacaan yang memiliki relevansi dengan permasalahan yang diteliti
b. Data Empirik
Data yang diambil dari lokasi penelitian unsur – unsur personil sekolah, yaitu Kepala Madrasah, Guru, Tata Usaha dan Siswa.
2. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi penelitian ini adalah siswa – siswi kelas 2 MTs Nurul Islam Slatri yang seluruhnya berjumlah 107 siswa. Terdiri dari 35 Siswa kelas 8 A dan 35 siswa kelas 8 B dan 37 siswa kelas 8 C.
b. Sampel
untuk mengurangi nilai kesalahan dalam pengambilan sample (sample error) maka penulis mengambil sampel sebanyak 50% dari jumlah populasi yang ada, yaitu 53 siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gary Klass yang menyebutkan bahwa semakin tinggi atau banyak sample yang diambil maka semakin kecil pula kemungkinan kesalahan dalam pengambilan sample (sample error).
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :
a. Metode Angket
Yaitu penulis melakukan komunikasi secara tidak langsung, berupa pertanyaan – pertanyaan tertulis kepada responden, teknik ini diharapkan memperolehdata untuk bahan analisis dalam menjawab perumusan permasalahan yang telah ditentukan.
b. Metode Dokumentasi
Yaitu pengambilan data tertulis baik catatan, data statistik dan grafik yang berkaitan dengan obyek penelitian, dalam hal ini nilai raport siswa kelas 2 pada mata pelajaran Akidah Akhlak.
c. Study Kepustakaan
Metode ini sering digunakan penulis untuk memperoleh data yang sifatnya teoritis dari buku, majalah, surat kabar, kamus dan media tulis lainnya.
4. Teknik Analisis Data
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, penulis melakukan analisis data. Metode analisa yang digunakan penulis adalah dengan analisa statistikyang merupakan cara untuk memperoleh data dxan kesimpulan yang teliti dan mengambil kesimpulan dengan berbagai rumus kesimpilan yang ada.
Untuk menganalisa data ini ada beberapa tahap penganalisaan, yaitu dalam analisa awal ini penulis mengelompokkan data – data berupa jawaban angket yang ada ke dalam tabel distribusi.
Sebagaimana bentuk pertanyaan yang penulis tuangkan dalam daftar angket jawaban terdisri atas empat alternatif, yaitu a, b, c dan d :
1. untuk jawaban a, dengan jawaban ya atau selalu
2. untuk jawaban b, dengan jawaban sering
3. untuk jawaban c, dengan jawaban kadang – kadang
4. untuk jawaban d, dengan jawaban tidak pernah
Dikarenakan sifat jawaban di atas masih berupa data kualitatif, maka data – data yang bersifat kualitatif tadi harus diubah menjadi data yang bersifat kuantitatif atau data yang berbentuk angka. Dalam menganalisis data yang berasal dari angket bergradasi atau bertingkat 1 sampai dengan 4 memiliki makna setiap alternatif sebagai berikut :
1. selalu / sangat setuju, dan lain – lain menunjukan gradasi paling tinggi diberi nilai 4
2. banyak, sering, setuju dan lain – lain menunjukan peringkat yang lebih rendah dibanding kata “sangat”, oleh karena itu diberi nilai 3
3. sedikit, jarang, kadang – kadang, dan lain – lain, karena di bawah kata setuju dan sebagainya, maka diberi nilai 2
4. sangat sedikit atau sangat jarang, yang berada di gradasi paling bawah diberi nilai 1. (Suharsimi Arikunto : 215)
Dengan berpedoman pada ketentuan di atas, maka untuk jawaban ya / selalu, sering, kadang – kadang dan tidaki pernah diberi nilai angka 4, 3, 2 dan 1, jadi untuk alternatif jawaban :
a. disertakan dengan angka 4
b. disertakan dengan angka 3
c. disertakan dengan angka 2; dan
d. disertakan dengan angka 1
Untuk memperoleh jawaban dari penelitian maka penulis kemukakan analisis data sekaligus untuk mencapai tujuanpenelitian yang diinginkan. Analisa yang dimaksud adalah suatu bentuk analisa dengan memasukan nilai hasil kerja koefisien antara variabel Motivasi belajar pelajaran Akidah Akhlak (X) dengan Prestasi siswa pad pelajaran yang sama (Y) ke dalam rumus korelasi product moment untuk mendapat nilai koefisien korelasi (r) dengan tujuan pembuktian dalam penelitian untuk mendapatkan kesimpulan.
Adapun rumus yang penulis pergunakan adalah rumus korelasi product moment, yaitu,:
Keterangan : = koefisien korelasi antara variabel x dan y
N = jumlah obyek
x = nilai dari motivasi belajar siswa
y = nilai prestasi siswa berupa nilai raport
= jumlah produk x dan y
Apabila nilai “r” terdapat diantara +1 dan -1, maka nilai “r” yang diperoleh dari hasil perhitungan, dikonsultasikan pada tabel nilai “r” sebagai berikut :
Nilai r Interpretasi
0 Tidak ada hubungan
0, 01 – 0, 20 Hubungan sangat rendah
0, 21 – 0, 40 Hubungan rendah
0, 41 – 0, 60 Hubungan agak rendah
0, 61 – 0, 80 Hubungan cukup
0, 81 – 0, 99 Hubungan tinggi
1 Hubungan sangat tinggi
Kamis, 28 Mei 2009
Kesetaraan Gender: Sebagai (Salah Satu) Akses Menuju Kemajuan Bangsa
Oleh: Muhammad Arifudin Aziz
Dalam era sekarang ini, dimana setiap individu memiliki kesmpatan yang sama dalam mengakses informasi dan berekspresi dan juga mengungkapkan pandangan-pandangan mereka dalam bidang pendidikan, seni dan kebudayaan, social, politik, ekonomi hingga agama. Karena itulah seharusnya wanita sekarang memperoleh perhatian dan kepercayaan yang lebih dari para elit negarawan baik eksekutif, legislative maupun yudikatif. Sehingga mereka dapat lebih bebas dalam berekspresi dan berkarya, tidak seperti yang baru-baru ini terjadi pada Dirut pertamina yang baru, yang pada awal kepemimpinannya harus mendapatkan cercaan dan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dari para anggota legislatif menyangkut tentang perihal kemampuan dirinya dalam memimpin dan mengelola BUMN terbesar di Indonesia tersebut. Padahal sang Dirut tersebut baru saja dilantik sehingga belum bisa berbuat banyak untuk menunjukan kemampuannya tersebut. Dalam hal ini bisa kita lihat bahkan ditngkat tinggi pemeintahan masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Dan hal inilah yang harus kita perjuangkan terutama oleh para perempuan sendiri untuk menggapai cita-cita bangsa yakni maenjadi bangsa yang besar yang menghormati hak-hak setiap warga negaranya.
Padahal bagaimana mungkin sebuah negara akan maju dan berkembang jika negara tersebut mengabaikan potensi dari setengah bahkan lebih penduduknya yaitu perempuan. Dari hal inilah, seyogyanya para pemegang kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada Dirut pertamina yang baru, untuk manunjukan kemampuannya terlebih dahulu sebelum mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan seperti yang terjadi dalam rapat DPR dan Pertamina beberapa waktu yang lalu.
Karena seperti yang terjadi sekarang ini, kesempatan-kesempatan dalam porsi yang lebih luas dan terbuka belum terasakan benar oleh para perempuan di negeri ini bahkan setelah hamper satu abad dari masa perjuangan ibu Kartini. Hal ini dapat terlihat dengan belum terpenuhinya kuota minimal 30 persen perempuan dari anggota DPR yang ada. Padahal setiap parpol diwajibkan paling tidak 30 persen wakil mereka yang duduk di DPR adalah perempuan. Akan tetapi kenyataannya kuota tersebut masih sangat jauh dari terpenuhi.
Untuk itulah jika kita menginginkan negara kita maju dan berkembang, maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi kekuatan yang dimiliki negeri ini, baik laki-laki maupun perempuan. Khusus perempuan, kita harus memberi mereka kesempatan yang l;ebih luas untuk menunjukan kemampuan mereka. Karena hal ini sesuai dengan hadis nabi yang menyebutkan bahwa perempuan adalah tiang agama. Hal ini disebabkan apabila moral perempuan di suatu negeri bobrok maka lemahlah negeri tersebut. Hal ini dapat terlihat banyaknya para pejabat yang korup karena dipaksa oleh para istri pejabat tesebut. Sebaliknya, jika moral perempuan suatu negeri baik, maka akan kokohlah negeri tersebut.
Semoga saja dengan ini kita tidak lagi melihat seseorang dari luarnya saja, terutama gendernya tetapi dari kemampuan dan keahlian yang dimiliki orang tersebut. Dan semoga hal ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Walaupun kedengarannya sederhana tetapi sulit untuk dilakukan, bukan?
Malang, 4 februari 2009
Dalam era sekarang ini, dimana setiap individu memiliki kesmpatan yang sama dalam mengakses informasi dan berekspresi dan juga mengungkapkan pandangan-pandangan mereka dalam bidang pendidikan, seni dan kebudayaan, social, politik, ekonomi hingga agama. Karena itulah seharusnya wanita sekarang memperoleh perhatian dan kepercayaan yang lebih dari para elit negarawan baik eksekutif, legislative maupun yudikatif. Sehingga mereka dapat lebih bebas dalam berekspresi dan berkarya, tidak seperti yang baru-baru ini terjadi pada Dirut pertamina yang baru, yang pada awal kepemimpinannya harus mendapatkan cercaan dan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dari para anggota legislatif menyangkut tentang perihal kemampuan dirinya dalam memimpin dan mengelola BUMN terbesar di Indonesia tersebut. Padahal sang Dirut tersebut baru saja dilantik sehingga belum bisa berbuat banyak untuk menunjukan kemampuannya tersebut. Dalam hal ini bisa kita lihat bahkan ditngkat tinggi pemeintahan masih terjadi diskriminasi terhadap perempuan. Dan hal inilah yang harus kita perjuangkan terutama oleh para perempuan sendiri untuk menggapai cita-cita bangsa yakni maenjadi bangsa yang besar yang menghormati hak-hak setiap warga negaranya.
Padahal bagaimana mungkin sebuah negara akan maju dan berkembang jika negara tersebut mengabaikan potensi dari setengah bahkan lebih penduduknya yaitu perempuan. Dari hal inilah, seyogyanya para pemegang kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada Dirut pertamina yang baru, untuk manunjukan kemampuannya terlebih dahulu sebelum mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan seperti yang terjadi dalam rapat DPR dan Pertamina beberapa waktu yang lalu.
Karena seperti yang terjadi sekarang ini, kesempatan-kesempatan dalam porsi yang lebih luas dan terbuka belum terasakan benar oleh para perempuan di negeri ini bahkan setelah hamper satu abad dari masa perjuangan ibu Kartini. Hal ini dapat terlihat dengan belum terpenuhinya kuota minimal 30 persen perempuan dari anggota DPR yang ada. Padahal setiap parpol diwajibkan paling tidak 30 persen wakil mereka yang duduk di DPR adalah perempuan. Akan tetapi kenyataannya kuota tersebut masih sangat jauh dari terpenuhi.
Untuk itulah jika kita menginginkan negara kita maju dan berkembang, maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi kekuatan yang dimiliki negeri ini, baik laki-laki maupun perempuan. Khusus perempuan, kita harus memberi mereka kesempatan yang l;ebih luas untuk menunjukan kemampuan mereka. Karena hal ini sesuai dengan hadis nabi yang menyebutkan bahwa perempuan adalah tiang agama. Hal ini disebabkan apabila moral perempuan di suatu negeri bobrok maka lemahlah negeri tersebut. Hal ini dapat terlihat banyaknya para pejabat yang korup karena dipaksa oleh para istri pejabat tesebut. Sebaliknya, jika moral perempuan suatu negeri baik, maka akan kokohlah negeri tersebut.
Semoga saja dengan ini kita tidak lagi melihat seseorang dari luarnya saja, terutama gendernya tetapi dari kemampuan dan keahlian yang dimiliki orang tersebut. Dan semoga hal ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Walaupun kedengarannya sederhana tetapi sulit untuk dilakukan, bukan?
Malang, 4 februari 2009
Kamis, 19 Maret 2009
Dua Amina
Oleh Luthfi Assyaukanie
Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, termasuk dalam urusan ibadah.
Ketika saya kecil, ibu saya selalu mengisahkan cerita sebelum tidur tentang berbagai tokoh Islam. Kisah nabi Muhammad adalah tema favoritnya. Dia bisa mengisahkan berbagai aspek kehidupan manusia mulia itu. Salah satu yang paling berkesan adalah kisah tentang Amina, ibunda Nabi. Entah dari mana ibu saya mendapatkan informasi tentang Amina, seorang tokoh yang tak banyak dikupas dalam sejarah Islam.
Mungkin dia memberi sedikit bumbu terhadap ceritanya, yang membuat kami --anak-anaknya-- makin bergairah setiap mendengar dongengannya. Ibu saya adalah seorang guru yang pandai bercerita. Ia tahu bagaimana membuat sebuah kisah menjadi menarik. Sosok Amina yang misteri digambarkannya seperti seorang tokoh nyata di kampung kami.
Menurut ibu saya, Amina adalah sosok wanita tegar, baik hati, dan punya pendirian. Ia adalah ibu yang mencintai keluarga dengan segenap hatinya. Suaminya meninggal dunia ketika ia hamil tua. Ia harus membesarkan Muhammad seorang diri. Cintanya kepada suaminya tak memberikan ruang buat laki-laki lain. Ia meninggal dunia di usia muda, ketika anaknya berusia enam tahun.
Saya tiba-tiba ingat sosok Amina yang tegar dan punya pendirian itu ketika baru-baru ini bertemu dengan dua figur penting bernama Amina. Yang pertama adalah Amina Rasul, seorang intelektual-aktivis asal Filipina; dan yang kedua, Amina Wadud, seorang sarjana asal Amerika.
Amina Rasul. Saya bertemu Amina Rasul dalam sebuah workshop empat hari yang diadakan di Malaysia. Saya sudah lama mendengar namanya, tapi baru kali itu saya bertemu dengannya. Amina adalah seorang ibu cantik yang memancarkan aura kecerdasan, ketegasan, dan keakraban dalam bergaul. Amina adalah tipe perempuan Muslim yang percaya diri dan tahu bagaimana menjadi modern tanpa harus mengorbankan agamanya.
Kendati sebagai seorang minoritas di negerinya, Amina tidak menampakkan inferioritas. Malah sebaliknya, dia menunjukkan kemampuannya beradaptasi dan terlibat dalam panggung politik di Filipina. Karir politiknya cukup cemerlang. Jabatan tertinggi yang pernah ia pegang adalah anggota kabinet dalam pemerintahan Presiden Fidel Ramos. Namanya masuk dalam 100 pemimpin Asean paling berpengaruh. Amina adalah tipikal wanita Muslimah ideal yang mengerti bagaimana menempatkan diri di dunia modern.
Amina sangat mencintai agamanya dan menghormati doktrin-doktrinnya. Dalam sebuah sesi di mana saya berbicara tentang pembaruan Islam, Amina adalah peserta yang paling gigih menentang saya, atau lebih tepatnya mengkritik pendekatan saya yang dinilainya terlalu radikal untuk diterapkan di dunia Islam sekarang. Saya senang berdebat dengannya, karena argumen-argumennya semakan menajamkan pikiran saya.
Amina Rasul adalah sosok perempuan Muslim yang mengerti bagaimana menjadi religius dan sekaligus modern. Dia tak tabu dengan simbol-simbol modernitas, meski memelihara komitmennya yang tinggi terhadap ajaran agama. Dalam acara perpisahan yang diiringi live music, tanpa canggung dia mengajak saya melantai, bersama peserta lainnya, mengikuti hentakan lagu Michael Buble: Save the Last Dance for Me.
Amina Wadud. Amina yang kedua adalah tipe intelektual dan sarjana dengan erudisi sangat tinggi. Ia mempelajari Islam di Universitas Michigan hingga meraih PhD. Selama masa studinya, ia pernah menjadi mahasiswa tamu di Univeristas al-Azhar, di mana ia mempelajari bahasa Arab dan mengikuti kuliah-kuliah keislaman dari para guru besar di sana. Dia menulis beberapa buku penting. Karya utamanya, Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Saya telah mendengar nama Amina Wadud sejak lama, tapi baru sempat berjumpa dalam sebuah workshop yang diselenggarakan Jaringan Islam Liberal beberapa waktu lalu di Jakarta. Saya memoderatorinya dalam satu sesi yang mengangkat tema Gender dan Islam. Saya kagum dengan Amina, meski berpikiran sangat modern dan maju, ia tetap mengenakan jilbab dan melontarkan ayat-ayat al-Quran dengan sangat fasih.
Amina dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan. Dia adalah pengkritik yang gigih pemahaman-pemahaman misoginis atas al-Quran. Menurutnya, diskriminasi hak dan peran terhadap perempuan selama ini berasal dari pemahaman misoginis yang banyak diciptakan oleh kaum laki-laki. Tugas kita sekarang adalah meluruskan pemahaman keliru itu dan meletakkannya sesuai dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan dan keadilan.
Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, termasuk dalam urusan ibadah.
Amina tak hanya berteori. Ia juga menerapkan apa yang dipahaminya, meskipun hal itu menuai kecaman yang membahayakan dirinya. Pada 18 Maret 2005, secara demonstratif dia menyelenggarakan salat Jumat di sebuah gereja di New York. Dia sendiri yang memimpin salat itu di depan jamaah campuran laki-laki dan perempuan. Acara Jumatan itu mendapat liputan dari sejumlah media di AS dan internasional. Sebagian besar tokoh Islam mengecam acara Amina. Tidak kurang dari Yusuf Qardawi mengeluarkan fatwa menyatakan sesatnya cara salat seperti itu.
Kendati mendapat kecaman dan fatwa sesat, Amina tak pernah berkecil hati. Setiap ada kesempatan menjadi imam salat, dia selalu melakukannya. Yang penting, menurutnya, jamaah merasa nyaman dengan kegiatan itu dan melakukannya bukan karena paksaan. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, bukan hanya dalam urusan politik, tapi juga dalam urusan ritual seperti mengimami salat.
Saya merasa beruntung mengenal dan bertemu dengan dua Amina itu. Menurut saya, Amina Rasul dan Amina Wadud adalah srikandi-srikandi Islam yang layak menjadi role-model bagi perempuan Muslim di dunia modern.
Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, termasuk dalam urusan ibadah.
Ketika saya kecil, ibu saya selalu mengisahkan cerita sebelum tidur tentang berbagai tokoh Islam. Kisah nabi Muhammad adalah tema favoritnya. Dia bisa mengisahkan berbagai aspek kehidupan manusia mulia itu. Salah satu yang paling berkesan adalah kisah tentang Amina, ibunda Nabi. Entah dari mana ibu saya mendapatkan informasi tentang Amina, seorang tokoh yang tak banyak dikupas dalam sejarah Islam.
Mungkin dia memberi sedikit bumbu terhadap ceritanya, yang membuat kami --anak-anaknya-- makin bergairah setiap mendengar dongengannya. Ibu saya adalah seorang guru yang pandai bercerita. Ia tahu bagaimana membuat sebuah kisah menjadi menarik. Sosok Amina yang misteri digambarkannya seperti seorang tokoh nyata di kampung kami.
Menurut ibu saya, Amina adalah sosok wanita tegar, baik hati, dan punya pendirian. Ia adalah ibu yang mencintai keluarga dengan segenap hatinya. Suaminya meninggal dunia ketika ia hamil tua. Ia harus membesarkan Muhammad seorang diri. Cintanya kepada suaminya tak memberikan ruang buat laki-laki lain. Ia meninggal dunia di usia muda, ketika anaknya berusia enam tahun.
Saya tiba-tiba ingat sosok Amina yang tegar dan punya pendirian itu ketika baru-baru ini bertemu dengan dua figur penting bernama Amina. Yang pertama adalah Amina Rasul, seorang intelektual-aktivis asal Filipina; dan yang kedua, Amina Wadud, seorang sarjana asal Amerika.
Amina Rasul. Saya bertemu Amina Rasul dalam sebuah workshop empat hari yang diadakan di Malaysia. Saya sudah lama mendengar namanya, tapi baru kali itu saya bertemu dengannya. Amina adalah seorang ibu cantik yang memancarkan aura kecerdasan, ketegasan, dan keakraban dalam bergaul. Amina adalah tipe perempuan Muslim yang percaya diri dan tahu bagaimana menjadi modern tanpa harus mengorbankan agamanya.
Kendati sebagai seorang minoritas di negerinya, Amina tidak menampakkan inferioritas. Malah sebaliknya, dia menunjukkan kemampuannya beradaptasi dan terlibat dalam panggung politik di Filipina. Karir politiknya cukup cemerlang. Jabatan tertinggi yang pernah ia pegang adalah anggota kabinet dalam pemerintahan Presiden Fidel Ramos. Namanya masuk dalam 100 pemimpin Asean paling berpengaruh. Amina adalah tipikal wanita Muslimah ideal yang mengerti bagaimana menempatkan diri di dunia modern.
Amina sangat mencintai agamanya dan menghormati doktrin-doktrinnya. Dalam sebuah sesi di mana saya berbicara tentang pembaruan Islam, Amina adalah peserta yang paling gigih menentang saya, atau lebih tepatnya mengkritik pendekatan saya yang dinilainya terlalu radikal untuk diterapkan di dunia Islam sekarang. Saya senang berdebat dengannya, karena argumen-argumennya semakan menajamkan pikiran saya.
Amina Rasul adalah sosok perempuan Muslim yang mengerti bagaimana menjadi religius dan sekaligus modern. Dia tak tabu dengan simbol-simbol modernitas, meski memelihara komitmennya yang tinggi terhadap ajaran agama. Dalam acara perpisahan yang diiringi live music, tanpa canggung dia mengajak saya melantai, bersama peserta lainnya, mengikuti hentakan lagu Michael Buble: Save the Last Dance for Me.
Amina Wadud. Amina yang kedua adalah tipe intelektual dan sarjana dengan erudisi sangat tinggi. Ia mempelajari Islam di Universitas Michigan hingga meraih PhD. Selama masa studinya, ia pernah menjadi mahasiswa tamu di Univeristas al-Azhar, di mana ia mempelajari bahasa Arab dan mengikuti kuliah-kuliah keislaman dari para guru besar di sana. Dia menulis beberapa buku penting. Karya utamanya, Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Saya telah mendengar nama Amina Wadud sejak lama, tapi baru sempat berjumpa dalam sebuah workshop yang diselenggarakan Jaringan Islam Liberal beberapa waktu lalu di Jakarta. Saya memoderatorinya dalam satu sesi yang mengangkat tema Gender dan Islam. Saya kagum dengan Amina, meski berpikiran sangat modern dan maju, ia tetap mengenakan jilbab dan melontarkan ayat-ayat al-Quran dengan sangat fasih.
Amina dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan. Dia adalah pengkritik yang gigih pemahaman-pemahaman misoginis atas al-Quran. Menurutnya, diskriminasi hak dan peran terhadap perempuan selama ini berasal dari pemahaman misoginis yang banyak diciptakan oleh kaum laki-laki. Tugas kita sekarang adalah meluruskan pemahaman keliru itu dan meletakkannya sesuai dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan dan keadilan.
Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, termasuk dalam urusan ibadah.
Amina tak hanya berteori. Ia juga menerapkan apa yang dipahaminya, meskipun hal itu menuai kecaman yang membahayakan dirinya. Pada 18 Maret 2005, secara demonstratif dia menyelenggarakan salat Jumat di sebuah gereja di New York. Dia sendiri yang memimpin salat itu di depan jamaah campuran laki-laki dan perempuan. Acara Jumatan itu mendapat liputan dari sejumlah media di AS dan internasional. Sebagian besar tokoh Islam mengecam acara Amina. Tidak kurang dari Yusuf Qardawi mengeluarkan fatwa menyatakan sesatnya cara salat seperti itu.
Kendati mendapat kecaman dan fatwa sesat, Amina tak pernah berkecil hati. Setiap ada kesempatan menjadi imam salat, dia selalu melakukannya. Yang penting, menurutnya, jamaah merasa nyaman dengan kegiatan itu dan melakukannya bukan karena paksaan. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, bukan hanya dalam urusan politik, tapi juga dalam urusan ritual seperti mengimami salat.
Saya merasa beruntung mengenal dan bertemu dengan dua Amina itu. Menurut saya, Amina Rasul dan Amina Wadud adalah srikandi-srikandi Islam yang layak menjadi role-model bagi perempuan Muslim di dunia modern.
Oleh Ahmad Syafii Maarif Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu dia
Oleh Abd. Moqsith Ghazali
Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial.
Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm) kedua setelah Alquran. Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Itu sebabnya, jika waktu kelahirannya dirayakan, maka saat kematiannya tidak. Perihal kelahirannya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut begitu karena bertepatan dengan tahun penyerangan “Pasukan Gajah” pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah.
Namun, dengan merujuk pada buku-buku sejarah, kita akan mengerti bahwa tak ada kepastian tentang jam, hari, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad SAW. Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, 260-267), Ibnu Katsir menjelaskan keanekaragaman pandangan para ulama tentang kelahiran Nabi. Husain Haikal juga menjelaskan pluralitas pendapat tersebut dalam Hayat Muhammad (hlm. 102). Mengenai tahun kelahirannya misalnya terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Abbas, Muhammad lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat, kelahirannya lima belas tahun sebelum peritiwa penyerangan Kabah itu. Ada yang memperkirakan beberapa hari (satu bulan, empat puluh hari, lima puluh hari), beberapa bulan, bahkan beberapa tahun setelah Tahun Gajah. Menurut Abi Ja`far al-Baqir, Muhammad lahir 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah itu. Yang lain menghitung sepuluh tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun hingga tujuh puluh tahun setelah Tahun Gajah. Abu Zakaria al-Ajalani berpendapat, Muhammad lahir empat puluh tahun setelah Tahun Gajah.
Begitu juga tentang bulan dan tanggal kelahirannya. Sebagian ulama berpendapat, Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, bulan Muharram, Safar, Rajab. Ibnu Abdil Birri mengutip pendapat al-Zubair ibn Bikar bahwa Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Ramadan. Sementara tanggal kelahirannya diperkirakan sebagian ulama jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat, kelahiran Muhammad jatuh pada 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 18 Rabiul Awal.
Artikel ini hendak menegaskan bahwa di kalangan ulama Islam klasik sendiri tak ada konsensus (ijma`) tentang waktu kelahiran Nabi Muhammad. Ini terjadi karena tak ada tradisi pencatatan waktu kelahiran seorang bayi saat itu. Baik ibunda maupun kakek Nabi tak mencatat kelahiran anak atau cucunya itu sehingga wajar kalau terjadi kesimpangsiuran waktu kelahiran Muhammad. Jelas, ketepatan dan kepersisan tanggal kelahiran seorang tokoh sekian ribu tahun lalu tak mudah ditunaikan. Tak ada kepastian tentang waktu kelahiran Nabi Isa, Nabi Musa, apalagi Nabi Ibrahim lalu Nabi Adam. Semua tanggal dan tahun kelahiran mereka ditentukan kemudian, berdasar asumsi dan prakiraan dan akhirnya membentuk keimanan. Lalu siapa sesungguhnya yang lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awal 1500 tahun lalu itu? Kita tak tahu. Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H. []
Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial.
Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm) kedua setelah Alquran. Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial. Itu sebabnya, jika waktu kelahirannya dirayakan, maka saat kematiannya tidak. Perihal kelahirannya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut begitu karena bertepatan dengan tahun penyerangan “Pasukan Gajah” pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah.
Namun, dengan merujuk pada buku-buku sejarah, kita akan mengerti bahwa tak ada kepastian tentang jam, hari, tanggal dan bulan kelahiran Muhammad SAW. Dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, 260-267), Ibnu Katsir menjelaskan keanekaragaman pandangan para ulama tentang kelahiran Nabi. Husain Haikal juga menjelaskan pluralitas pendapat tersebut dalam Hayat Muhammad (hlm. 102). Mengenai tahun kelahirannya misalnya terdapat beberapa pendapat. Menurut Ibnu Abbas, Muhammad lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat, kelahirannya lima belas tahun sebelum peritiwa penyerangan Kabah itu. Ada yang memperkirakan beberapa hari (satu bulan, empat puluh hari, lima puluh hari), beberapa bulan, bahkan beberapa tahun setelah Tahun Gajah. Menurut Abi Ja`far al-Baqir, Muhammad lahir 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah itu. Yang lain menghitung sepuluh tahun, dua puluh tiga tahun, tiga puluh tahun hingga tujuh puluh tahun setelah Tahun Gajah. Abu Zakaria al-Ajalani berpendapat, Muhammad lahir empat puluh tahun setelah Tahun Gajah.
Begitu juga tentang bulan dan tanggal kelahirannya. Sebagian ulama berpendapat, Muhammad lahir pada bulan Rabiul Awal. Yang lain berpendapat, bulan Muharram, Safar, Rajab. Ibnu Abdil Birri mengutip pendapat al-Zubair ibn Bikar bahwa Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Ramadan. Sementara tanggal kelahirannya diperkirakan sebagian ulama jatuh pada tanggal 2, 9, 17 Rabiul Awal. Ibnu Hazm berpendapat, kelahiran Muhammad jatuh pada 8 Rabiul Awal. Ibnu Ishaq berpendapat pada tanggal 12 Rabiul Awal. Ulama pun berbeda pendapat, tentang waktu kelahirannya; siang atau malam. Satu ulama berpendapat siang, yang lain mengatakan malam. Begitu juga dengan hari kelahirannya. Ada yang berpendapat Senin. Yang lain berpendapat Jumat. Seorang sahabat Nabi, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 18 Rabiul Awal.
Artikel ini hendak menegaskan bahwa di kalangan ulama Islam klasik sendiri tak ada konsensus (ijma`) tentang waktu kelahiran Nabi Muhammad. Ini terjadi karena tak ada tradisi pencatatan waktu kelahiran seorang bayi saat itu. Baik ibunda maupun kakek Nabi tak mencatat kelahiran anak atau cucunya itu sehingga wajar kalau terjadi kesimpangsiuran waktu kelahiran Muhammad. Jelas, ketepatan dan kepersisan tanggal kelahiran seorang tokoh sekian ribu tahun lalu tak mudah ditunaikan. Tak ada kepastian tentang waktu kelahiran Nabi Isa, Nabi Musa, apalagi Nabi Ibrahim lalu Nabi Adam. Semua tanggal dan tahun kelahiran mereka ditentukan kemudian, berdasar asumsi dan prakiraan dan akhirnya membentuk keimanan. Lalu siapa sesungguhnya yang lahir di Mekah pada Senin 12 Rabiul Awal 1500 tahun lalu itu? Kita tak tahu. Namun, karena di Indonesia sudah mentradisi, secara sosio-kultural saya tetap perlu mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal 1430 H. []
Langganan:
Postingan (Atom)
sunset
waktu selalu mengejar

